BRMP NTB Kawal Kesiapan Program Pengembangan Tebu 1.000 Hektare di Dompu

Dompu, NTB — Pengembangan komoditas tebu di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB), terus didorong sebagai salah satu langkah strategis untuk meningkatkan produksi perkebunan sekaligus mendukung program swasembada gula nasional. Persiapan program tersebut kini mulai dilakukan secara intensif, terutama dalam memastikan kesiapan lahan, petani, sumber benih, serta berbagai kebutuhan pendukung lainnya di lapangan.

Dalam rangka memastikan kesiapan pelaksanaan program, Kepala Balai Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) NTB bersama tim melakukan peninjauan langsung ke sejumlah lokasi pembibitan tebu di Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu. Kegiatan tersebut dilakukan untuk melihat secara langsung kondisi sumber benih yang akan digunakan dalam mendukung pengembangan areal tebu sekaligus memastikan ketersediaan bibit sebelum kegiatan penanaman dimulai.

Peninjauan lapangan menjadi bagian penting dalam tahapan persiapan program karena keberhasilan pengembangan tebu tidak hanya ditentukan oleh luas lahan yang tersedia. Ketersediaan benih yang berkualitas dan sesuai dengan kebutuhan juga menjadi salah satu faktor utama yang harus dipastikan sejak awal. Dengan sumber benih yang siap, kegiatan penanaman diharapkan dapat berlangsung tepat waktu dan sesuai dengan target yang telah ditetapkan.

Program pengembangan tebu yang dipersiapkan di Kecamatan Pekat memiliki target areal seluas 1.000 hektare. Dari total luasan tersebut, sebanyak 500 hektare direncanakan untuk kegiatan perluasan tanam, sedangkan 500 hektare lainnya akan diarahkan untuk kegiatan bongkar ratoon. Kedua kegiatan tersebut diharapkan dapat berjalan secara beriringan untuk mendukung peningkatan produktivitas dan produksi tebu di wilayah Kabupaten Dompu.

Perluasan tanam menjadi salah satu upaya untuk menambah areal produksi tebu. Sementara itu, bongkar ratoon dilakukan sebagai bagian dari pengelolaan tanaman tebu yang telah ada sehingga produktivitas kebun dapat dipertahankan dan ditingkatkan. Dengan kombinasi kedua kegiatan tersebut, pengembangan tebu diharapkan tidak hanya berorientasi pada peningkatan luas tanam, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan produktivitas tanaman di tingkat petani.

Sejalan dengan persiapan kegiatan tersebut, usulan Calon Petani Calon Lokasi (CPCL) telah diajukan dan saat ini sedang diproses melalui aplikasi e-Banper. Tahapan CPCL menjadi bagian penting untuk memastikan program dapat dilaksanakan pada lokasi dan sasaran petani yang sesuai dengan ketentuan. Proses tersebut juga diharapkan dapat membantu pelaksanaan program agar lebih terarah dan tepat sasaran.

Kegiatan pengembangan tebu tersebut direncanakan mencakup lima desa di Kecamatan Pekat, yaitu Desa Doropeti, Desa Nangakara, Desa Sorinomo, Desa Beringin Jaya, dan Desa Pekat. Kelima desa tersebut akan menjadi bagian dari kawasan pengembangan tebu yang dipersiapkan untuk mendukung peningkatan produksi komoditas perkebunan di Kabupaten Dompu.

Pelaksanaan penanaman direncanakan mulai Juli 2026. Namun, waktu tersebut tetap akan disesuaikan dengan kondisi di lapangan, terutama perkembangan curah hujan dan kondisi kelembapan tanah. Penyesuaian waktu tanam menjadi penting karena kondisi lingkungan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan awal tanaman tebu setelah ditanam.

Selain kesiapan lahan dan petani, ketersediaan benih menjadi salah satu perhatian utama dalam persiapan program. Sumber benih yang disiapkan berasal dari penangkar yang telah memenuhi persyaratan. Bibit yang tersedia memiliki umur sekitar 6–7 bulan, sehingga diharapkan telah siap untuk mendukung kebutuhan pengembangan areal tanam sesuai dengan jadwal yang telah direncanakan.Ketersediaan benih yang berkualitas merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan keberhasilan pengembangan tebu. Benih yang tersedia tepat waktu akan membantu petani melaksanakan kegiatan penanaman sesuai jadwal. Sebaliknya, keterlambatan penyediaan benih dapat memengaruhi waktu tanam dan pada akhirnya berdampak terhadap pertumbuhan serta produktivitas tanaman.

Karena itu, kesiapan sumber benih perlu dipastikan sejak tahap awal. Peninjauan langsung ke lokasi pembibitan menjadi langkah penting untuk melihat kondisi aktual benih sekaligus memastikan kemampuan sumber benih dalam memenuhi kebutuhan program pengembangan tebu seluas 1.000 hektare.

Selain memastikan kuantitas, kualitas bahan tanam juga perlu menjadi perhatian. Penggunaan benih yang sesuai diharapkan dapat membantu tanaman tumbuh secara optimal dan memberikan produktivitas yang lebih baik. Dengan demikian, investasi dalam penyediaan benih berkualitas menjadi bagian penting dari upaya membangun sistem produksi tebu yang lebih produktif dan berkelanjutan.Program pengembangan tebu di Dompu juga membutuhkan sinergi antara pemerintah, penangkar benih, petani, serta pihak-pihak lain yang terlibat dalam pelaksanaannya. Pemerintah berperan dalam memberikan dukungan program, fasilitasi, pendampingan, serta pengawalan kegiatan. Sementara itu, penangkar benih memiliki peran penting dalam menyediakan bahan tanam yang berkualitas dan sesuai kebutuhan.

Di sisi lain, petani merupakan pelaku utama dalam pengembangan tanaman tebu di lapangan. Kesiapan petani dalam mengelola lahan, melakukan penanaman, pemeliharaan, hingga pengelolaan tanaman menjadi bagian yang sangat menentukan keberhasilan program. Oleh sebab itu, koordinasi dan pendampingan secara berkelanjutan perlu terus dilakukan agar setiap tahapan dapat berjalan dengan baik.

Pengembangan tebu di Kecamatan Pekat diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi sektor pertanian dan perkebunan di Kabupaten Dompu. Selain meningkatkan produksi tebu, program tersebut juga berpotensi membuka peluang peningkatan pendapatan bagi petani melalui pengembangan komoditas perkebunan yang memiliki nilai ekonomi.Lebih jauh, peningkatan produksi tebu di daerah juga diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pemenuhan kebutuhan bahan baku gula dalam negeri. Hal tersebut sejalan dengan upaya pemerintah untuk memperkuat produksi gula nasional dan mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar negeri.

Dengan target pengembangan mencapai 1.000 hektare, program tebu di Kecamatan Pekat menjadi salah satu kegiatan yang perlu mendapatkan pengawalan secara berkelanjutan. Pengawalan sejak tahap persiapan, penyediaan benih, penetapan CPCL, persiapan lahan, hingga pelaksanaan penanaman sangat diperlukan untuk mengantisipasi berbagai kendala yang mungkin terjadi di lapangan.Kondisi cuaca dan curah hujan juga menjadi salah satu faktor yang harus terus dipantau. Penyesuaian jadwal tanam dengan kondisi lingkungan diharapkan dapat membantu meningkatkan peluang keberhasilan tanaman pada fase awal pertumbuhan. Dengan perencanaan yang matang, kegiatan penanaman dapat dilaksanakan pada waktu yang lebih sesuai dengan kondisi lahan dan kebutuhan tanaman.

Pada akhirnya, keberhasilan pengembangan tebu tidak hanya ditentukan oleh luas areal yang ditanam. Kualitas benih, kesiapan petani, kesesuaian lahan, ketepatan waktu tanam, pemeliharaan tanaman, serta pendampingan yang konsisten menjadi satu kesatuan yang saling berkaitan.Melalui sinergi antara BRMP NTB, pemerintah daerah, penangkar benih, petani, dan seluruh pihak terkait, pengembangan tebu di Kecamatan Pekat diharapkan dapat berjalan sesuai target. Program ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas perkebunan, memperkuat ekonomi petani, mengoptimalkan pemanfaatan lahan, sekaligus memberikan kontribusi nyata terhadap pencapaian swasembada gula nasional.

Pengawalan sejak tahap pembibitan menjadi langkah awal yang penting untuk memastikan seluruh rangkaian program dapat berjalan dengan baik. Dengan ketersediaan benih yang berkualitas, petani yang siap, lahan yang mendukung, serta koordinasi yang kuat antar-pihak, pengembangan tebu di Dompu diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya membangun sektor perkebunan yang semakin produktif, berkelanjutan, dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *